Kerangka Dasar Analisis
Subsistem prediksi tidak menggantikan kerangka monitoring. Kondisi aktual tetap dikarakterisasi melalui indikator meteorologis, vegetasi, dan kelembaban tanah sebagai dasar interpretasi hasil forecast.
LBS Drought Early Warning System merupakan kerangka terintegrasi untuk pemantauan, peringatan dini, prediksi, dan pendukung keputusan kekeringan pada Lahan Baku Sawah (LBS) di Seluruh Indonesia. Sistem mengintegrasikan indikator curah hujan, kondisi vegetasi, dan kelembaban tanah serta mengembangkan prediksi direct multi-horizon untuk horizon satu hingga lima bulan ke depan.
Kerangka monitoring menggunakan SPI, standardized NDVI anomaly, dan standardized soil moisture anomaly untuk membentuk LBS Drought Index (LDI). LDI selanjutnya diturunkan menjadi informasi severity, coverage, Composite Drought Priority Index (CDPI), trend, persistence, agreement, dan confidence. Subsistem prediksi direct multi-horizon digunakan untuk mengestimasi LDI pada horizon H+1 hingga H+5.
Subsistem prediksi tidak menggantikan kerangka monitoring. Kondisi aktual tetap dikarakterisasi melalui indikator meteorologis, vegetasi, dan kelembaban tanah sebagai dasar interpretasi hasil forecast.
Model dikembangkan secara independen untuk horizon H+1, H+2, H+3, H+4, dan H+5. Keluaran prediksi pada suatu horizon tidak digunakan sebagai input wajib untuk horizon berikutnya sehingga propagasi galat recursive dapat dikurangi.
Setiap keluaran prediksi diinterpretasikan bersama metrik hindcast, kelengkapan data masukan, agreement antarindikator, dan panjang lead time. Forecast diposisikan sebagai informasi antisipatif, bukan sebagai kepastian deterministik.
CHIRPS digunakan untuk merepresentasikan kondisi meteorologis, MODIS MOD13Q1 untuk respons vegetasi, dan ERA5-Land untuk kondisi kelembaban tanah. Untuk pemodelan forecast, ketiga sumber tersebut diintegrasikan dalam panel desa-bulan dan dikembangkan menjadi fitur lag, rolling mean, trend, persistence, seasonality siklik, koordinat spasial, serta indikator missing data.
Curah hujan CHIRPS digunakan untuk perhitungan SPI-1, SPI-3, rainfall anomaly, serta sebagai prediktor dalam subsistem forecast.
Produk MODIS MOD13Q1 menyediakan NDVI dan Quality Assurance (QA) untuk pembentukan vegetation stress, standardized anomaly, fitur lag dan trend, serta prediktor forecast.
ERA5-Land digunakan untuk membentuk soil moisture anomaly sebagai indikator kekeringan pertanian, komponen agreement, dan prediktor pada model forecast.
Periode analisis bersama ditetapkan Januari 2001 hingga Juli 2026. Dengan 307 bulan dan 83.400 desa ber-ID valid, ukuran teoritis maksimum panel mencapai 25.603.800 record desa-bulan sebelum mempertimbangkan missing indicator.
Cut-off observasi operasional ditetapkan pada Juli 2026 sebagai base month. Dari base month yang sama, sistem menghasilkan H+1 Agustus, H+2 September, H+3 Oktober, H+4 November, dan H+5 Desember 2026.
Parameter klimatologis dipertahankan tetap selama proses hindcast dan inference. Anomali dihitung berdasarkan bulan kalender yang sama dengan baseline yang telah ditetapkan sehingga periode validasi dan forecast tidak masuk ke parameter klimatologi dan risiko data leakage dapat dihindari.
Kerangka monitoring menerapkan quality control, harmonisasi temporal, harmonisasi spasial, standardisasi indikator, dan multi-indicator fusion. SPI, NDVI anomaly, dan soil moisture anomaly diorientasikan secara konsisten sehingga nilai yang lebih tinggi menunjukkan kondisi yang lebih kering, kemudian digabungkan menjadi LDI dan diagregasikan pada unit administrasi desa.
Tahap ini mencakup pemeriksaan ketersediaan tanggal, missing value, Quality Assurance MODIS, rentang nilai fisik, NoData, versi data, dan metadata pemrosesan.
Seluruh indikator dikonversi ke representasi bulanan agar analisis dilakukan pada skala temporal yang konsisten.
Grid alignment dilakukan dengan mempertimbangkan resolusi sumber data; resampling diperlakukan sebagai kebutuhan penyelarasan grid dan tidak diinterpretasikan sebagai peningkatan resolusi informasi.
SPI, standardized NDVI anomaly, dan standardized soil moisture anomaly dihitung terhadap baseline klimatologis masing-masing.
Ketiga indikator kekeringan digabungkan melalui weighted linear fusion, kemudian LDI raw distandardisasi kembali terhadap baseline historis.
Area-weighted zonal statistics digunakan untuk menghasilkan mean severity, drought coverage, severe drought coverage, dan drought area pada tingkat desa.
CDPI, ranking, trend, persistence, agreement, confidence, dan level peringatan digunakan untuk membentuk informasi operasional dan prioritas intervensi.
Panel historis hasil monitoring digunakan sebagai dasar feature engineering dan pemodelan direct multi-horizon untuk H+1 hingga H+5.
Curah hujan bulanan dihitung sebagai jumlah seluruh curah hujan harian valid dalam bulan terkait.
Akumulasi curah hujan dibentuk sesuai skala waktu SPI yang dianalisis, termasuk SPI-1 dan SPI-3.
Median observasi NDVI valid digunakan setelah QA masking untuk mengurangi pengaruh nilai ekstrem dan residual cloud contamination.
Soil moisture bulanan dihitung sebagai rata-rata seluruh observasi valid pada bulan terkait.
Estimasi soil moisture 0–28 cm dibentuk melalui pembobotan lapisan 0–7 cm dan 7–28 cm berdasarkan ketebalan masing-masing lapisan.
Akumulasi curah hujan dipasangkan pada distribusi probabilitas gamma sebelum ditransformasikan menjadi SPI; SPI tidak dihitung sebagai z-score sederhana dari curah hujan mentah.
Probabilitas kumulatif hasil pemodelan distribusi curah hujan ditransformasikan ke distribusi normal baku untuk memperoleh nilai SPI.
Karena nilai SPI negatif menunjukkan kondisi lebih kering, orientasi indikator dibalik agar seluruh komponen fusion memiliki arah interpretasi yang konsisten.
Standardized NDVI anomaly dihitung relatif terhadap rata-rata dan standar deviasi historis pada bulan kalender yang sama.
Orientasi NDVI anomaly dibalik sehingga nilai drought signal yang lebih tinggi merepresentasikan kondisi vegetasi yang lebih tertekan atau lebih kering.
Standardized soil moisture anomaly dihitung terhadap baseline historis pada bulan kalender yang sama.
Orientasi soil moisture anomaly dibalik agar defisit kelembaban tanah memiliki arah interpretasi yang konsisten dengan indikator SPI dan NDVI.
Weighted linear fusion mengintegrasikan indikator meteorologis, vegetasi, dan kelembaban tanah menjadi LDI raw.
Bobot indikator meteorologis, vegetasi, dan soil moisture dibatasi sehingga jumlah keseluruhannya sama dengan satu.
LDI raw distandardisasi kembali terhadap baseline historis pada bulan kalender yang sama untuk membentuk LDI-Z.
Agreement dihitung sebagai jumlah indikator yang secara simultan melampaui threshold kekeringan yang ditetapkan.
Mean Severity dihitung dengan membobotkan kelas kekeringan setiap pixel berdasarkan luas irisan pixel di dalam batas desa.
Drought Coverage menyatakan proporsi area valid yang berada pada kelas minimal Kering Ringan.
Severe Drought Coverage menyatakan proporsi area valid yang berada pada kelas minimal Kering Sedang.
Drought Area dihitung dari luas desa dan proporsi drought coverage untuk memperoleh estimasi luas wilayah terdampak.
Transformasi logaritmik pada komponen area digunakan untuk mengurangi dominasi desa berukuran sangat luas dalam pembentukan ranking.
CDPI mengintegrasikan severity, coverage, dan drought area menjadi indeks prioritas intervensi pada skala 0–100.
Bobot severity, coverage, dan area dibatasi sehingga jumlah keseluruhannya sama dengan satu.
Persistence merepresentasikan jumlah periode berurutan ketika LDI berada pada atau di atas threshold yang ditetapkan.
Perubahan LDI antarperiode digunakan untuk mengidentifikasi kecenderungan memburuk, stabil, atau membaik.
Pada pendekatan direct multi-horizon, setiap horizon memiliki fungsi model tersendiri yang memetakan fitur pada bulan t secara langsung ke LDI pada t+h.
Target regresi operasional pada implementasi saat ini dibentuk dari komponen SPI-3 dan NDVI anomaly, sedangkan soil moisture anomaly dipertahankan sebagai predictor, indikator agreement, dan informasi confidence.
Pemilihan model dilakukan secara terpisah pada setiap horizon berdasarkan RMSE hindcast terendah sebagai kriteria utama.
Kerangka risiko kekeringan merupakan pengembangan konseptual yang memerlukan ketersediaan informasi hazard, exposure, dan vulnerability yang memadai.
| LDI-Z | Kelas | Kategori |
|---|---|---|
| < 0,50 | 0 | Normal |
| 0,50–0,99 | 1 | Waspada |
| 1,00–1,49 | 2 | Kering Ringan |
| 1,50–1,99 | 3 | Kering Sedang |
| 2,00–2,49 | 4 | Kering Berat |
| ≥ 2,50 | 5 | Ekstrem |
| CDPI | Prioritas |
|---|---|
| 0–20 | Rendah |
| >20–40 | Sedang |
| >40–60 | Tinggi |
| >60–80 | Sangat Tinggi |
| >80–100 | Kritis |
Threshold klasifikasi LDI, bobot LDI dan CDPI, serta aturan early warning merupakan parameter operasional awal yang memerlukan kalibrasi dan validasi terhadap kejadian historis serta observasi lapangan sebelum digunakan sebagai dasar keputusan operasional secara penuh.
Base month operasional ditetapkan pada Juli 2026. Satu matriks fitur pada base month tersebut digunakan sebagai input bagi lima model horizon yang dilatih secara independen untuk menghasilkan prediksi Agustus hingga Desember 2026. Strategi direct dipilih untuk mengurangi propagasi galat antartahap yang umum terjadi pada recursive forecasting.
Panel historis bersama mencakup periode Januari 2001 hingga Juli 2026 untuk 83.400 desa ber-ID valid. Missing value dipertahankan sebagai missingness dan tidak diubah menjadi observasi sintetis.
Predictor pada bulan t hanya dibentuk dari informasi yang tersedia pada atau sebelum t, sedangkan target didefinisikan sebagai LDI pada t+h. Prinsip ini diterapkan untuk mencegah penggunaan informasi masa depan dalam proses pelatihan.
Proses training dan tuning menggunakan target yang tidak melewati Desember 2024, sedangkan target sepanjang tahun 2025 diperlakukan sebagai periode validasi temporal untuk menguji kemampuan generalisasi model.
HistGradientBoosting, Random Forest, dan XGBoost dibandingkan secara terpisah pada setiap horizon. RMSE digunakan sebagai kriteria seleksi utama, sedangkan MAE, R², accuracy, precision, recall, dan macro-F1 digunakan sebagai metrik evaluasi pendukung.
Keluarga model terbaik pada setiap horizon dilatih ulang menggunakan observasi yang tersedia sampai Juli 2026. Matriks fitur Juli 2026 selanjutnya digunakan untuk inference pada lima horizon secara paralel.
Setiap record desa menyimpan forecast month, horizon, Forecast LDI, kelas kekeringan, model terpilih, metrik hindcast, indikator kelengkapan input, dan status Forecast CDPI.
Feature engineering dirancang untuk merepresentasikan kondisi saat ini, memori temporal, arah perubahan, persistence, seasonality, posisi spasial, dan kualitas data masukan.
Model terbaik dapat berbeda antarhorizon karena tingkat kesulitan prediksi berubah seiring bertambahnya lead time. Oleh karena itu, seleksi model dilakukan secara independen untuk H+1 hingga H+5.
Forecast LDI dapat digunakan untuk menyusun ranking berdasarkan severity atau hazard yang diperkirakan. Namun, CDPI membutuhkan informasi severity, coverage, dan affected area. Apabila riwayat target tersebut belum memadai untuk pelatihan supervised, Forecast CDPI tidak dihitung; kolom terkait dibiarkan kosong dengan status eksplisit sehingga sistem tidak menghasilkan nilai CDPI sintetis.
Forecast pada implementasi saat ini merupakan statistical direct multi-horizon forecast berbasis indikator historis dan belum menggunakan seasonal climate forecast dinamis dari model atmosfer sebagai exogenous predictor masa depan.
Metode ini mengembangkan keluaran monitoring dan forecast menjadi informasi potensi dampak produksi dan ekonomi. Perhitungan dipisahkan antara kondisi aktual dan forecast agar tidak membentuk variabel prediksi yang tidak dihasilkan oleh model. Hasil dinyatakan sebagai potensi kerugian berbasis skenario, bukan kerugian aktual terverifikasi.
Luas polygon LBS menjadi basis spasial lahan yang berpotensi terpapar.
Aktual menggunakan coverage dan severity; forecast menggunakan Forecast LDI.
Luas-ekuivalen menggabungkan luas dan intensitas kekeringan tanpa menghitung coverage dua kali.
Dampak kekeringan dikaitkan dengan luas tanam aktif, produktivitas, dan sensitivitas hasil.
Kehilangan produksi potensial dikonversi menjadi nilai ekonomi dengan harga gabah yang konsisten.
Untuk kondisi aktual, coverage digunakan untuk menentukan proporsi LBS yang terpapar, sedangkan severity digunakan untuk merepresentasikan intensitas kekeringan. Karena severity telah merepresentasikan rata-rata berbobot kondisi pixel, coverage tidak dikalikan kembali dengan severity secara mentah.
Luas terpapar dihitung dari coverage, sedangkan Drought Equivalent Area dibentuk dari hazard severity. Intensitas kondisional pada area terpapar dihitung sebagai I = H/C apabila C > 0.
Subsistem prediksi menghasilkan Forecast LDI tingkat desa, bukan predicted coverage atau predicted severity tingkat pixel. Oleh karena itu, Forecast LDI ditransformasikan langsung menjadi normalized forecast hazard. Jalur ini memungkinkan dampak forecast dihitung tanpa menciptakan variabel spasial sintetis yang tidak dihasilkan model.
Normalized forecast hazard menggunakan fungsi HF = clamp((LDIF − 0,50)/2,00, 0, 1). Fungsi transfer harus dikalibrasi ulang apabila data dampak historis yang lebih lengkap tersedia.
C = Coverage / 100C dibatasi pada rentang 0–1.
H = clamp(Severity / 5, 0, 1)Skala severity 0–5 dinormalisasi menjadi 0–1.
A_E = A × CA adalah luas polygon LBS dalam hektare.
I = clamp(H / C, 0, 1), jika C > 0Jika C = 0 maka I = 0.
DEA = A × H = A_E × IDEA dinyatakan sebagai hektare-ekuivalen kekeringan.
D_A = clamp(β × I, 0, 1)β adalah koefisien sensitivitas hasil yang harus dikalibrasi.
PPL_A = A_E × G × Y × D_AG adalah proporsi LBS aktif/tertanam; Y adalah produktivitas baseline (ton/ha).
PEL_A = PPL_A × 1.000 × PP adalah harga gabah dalam Rp/kg dengan basis kualitas yang sama dengan Y.
H_F = clamp((LDI_F − 0,50) / 2,00, 0, 1)Nilai LDI di bawah 0,50 tidak menghasilkan hazard forecast pada modul dampak.
FDEA = A × H_FFDEA mengubah hazard forecast menjadi luas-ekuivalen pada basis LBS.
PPL_F = A × G × Y × clamp(β × H_F, 0, 1)Perhitungan forecast tidak memerlukan predicted coverage/severity.
PEL_F = PPL_F × 1.000 × PNilai ekonomi hanya dihitung apabila basis harga tersedia dan konsisten.
LDI_low = LDI_F − RMSE_h; LDI_high = LDI_F + RMSE_hKedua nilai ditransformasikan kembali ke hazard untuk memperoleh rentang dampak bawah–atas.
Loss_R = Σ Loss_iProduction loss dan economic loss dijumlahkan dari polygon LBS ke desa, kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, hingga nasional.
| Simbol | Parameter | Unit / rentang | Ketentuan metodologis |
|---|---|---|---|
| A | Luas polygon LBS | ha | Basis exposure; LBS tidak otomatis sama dengan luas tanam aktif. |
| C | Coverage kekeringan aktual | 0–1 | Diturunkan dari persentase coverage pada hasil monitoring. |
| H | Normalized severity hazard aktual | 0–1 | Diturunkan dari severity skala 0–5. |
| G | Proporsi LBS aktif/tertanam | 0–1 | Gunakan data luas tanam/KSA bila tersedia; G = 1 hanya sebagai skenario upper-exposure. |
| Y | Produktivitas baseline | ton/ha | Prioritaskan produktivitas kabupaten/kota atau provinsi sesuai periode. |
| β | Koefisien sensitivitas hasil | 0–1 | Parameter empiris yang harus dikalibrasi dengan data kehilangan hasil historis/lapangan. |
| P | Harga gabah | Rp/kg | Basis harga harus konsisten dengan basis produksi, misalnya GKG dengan GKG. |
| RMSEh | Error hindcast pada horizon h | satuan LDI | Digunakan sebagai screening uncertainty band; bukan confidence interval formal. |
Kalkulator metodologis untuk menguji sensitivitas parameter. Hasilnya merupakan skenario, bukan klaim kerugian aktual.
Forecast LDI dikonversi menjadi normalized hazard. RMSE horizon digunakan untuk membentuk screening range bawah–atas.
Nilai yang dihasilkan adalah potential/scenario-based loss. Angka tersebut tidak boleh diperlakukan sebagai kerugian aktual terverifikasi sebelum tersedia validasi menggunakan data luas tanam/luas panen, produktivitas aktual, puso atau penurunan hasil, harga pada periode terkait, serta observasi lapangan. Production loss juga berbeda dari kerusakan aset seperti jaringan irigasi, pompa, dan infrastruktur pertanian.
Koefisien β dan fungsi transfer Forecast LDI → hazard harus dikalibrasi menggunakan pasangan data historis antara kondisi kekeringan dan kehilangan hasil. Evaluasi dapat menggunakan MAE/RMSE untuk kehilangan produksi, error relatif nilai ekonomi, serta konsistensi ranking wilayah terdampak. Sensitivity analysis wajib dilakukan terhadap G, Y, β, P, dan fungsi hazard forecast.
Distribusi 83.486 desa yang ditampilkan merupakan hasil monitoring awal dan tidak merepresentasikan distribusi forecast Agustus–Desember 2026. Nilai forecast dan metrik akurasi final harus diperoleh langsung dari output pipeline untuk menjaga reproducibility dan menghindari penggunaan angka ilustratif sebagai hasil penelitian.
Jumlah tersebut merepresentasikan cakupan polygon pada sumber administrasi. Nilainya tidak sama dengan unit forecast karena terdapat record tanpa ID desa resmi yang tidak dapat dimasukkan ke panel time series.
Sebanyak 86 record tanpa ID desa resmi dikeluarkan dari panel time series untuk menjaga konsistensi identitas administrasi dan keterlacakan join antarbulan.
Forecast menghasilkan trajectory Agustus hingga Desember 2026. Setiap horizon menyimpan Forecast LDI, kelas kekeringan, model horizon, metrik hindcast, dan atribut kualitas data masukan.
Persentase kelas yang ditampilkan berasal dari snapshot monitoring awal. Dokumen metodologi tidak menetapkan nilai forecast maupun akurasi numerik yang belum tersedia. Nilai final harus diperoleh dari FORECAST_VILLAGE_AUG_DEC_2026.csv dan FORECAST_MODEL_ACCURACY.csv yang dihasilkan oleh pipeline.
Alat bantu pada bagian ini menerapkan parameter dan aturan yang dinyatakan dalam dokumen metodologi. Komponen interaktif tidak menghasilkan metrik akurasi maupun nilai Forecast LDI yang tidak tersedia pada sumber.
Masukkan nilai Mean Severity (0–1), Drought Coverage (%), Drought Area, dan Drought Area maksimum pada populasi pembanding untuk menghitung CDPI berdasarkan formulasi metodologi.
Checker menerapkan struktur awal level peringatan. Karena threshold coverage final belum ditetapkan dalam metodologi, status coverage diperlakukan sebagai input pengguna dan tidak diestimasi secara otomatis.
Pilih horizon untuk menampilkan bulan target dan konteks interpretasinya. Explorer tidak membentuk atau mensimulasikan nilai Forecast LDI.
Arsitektur sistem mempertahankan pemisahan data layer, processing layer, analytics layer, dan serving layer. Pengembangan forecast menambahkan pembentukan panel time series dan feature engineering pada processing layer, serta penyimpanan model per horizon, metrik hindcast, Forecast LDI, forecast class, dan ranking pada analytics layer.
Processing layer menjalankan preprocessing, baseline calculation, SPI, anomaly, dan LDI, kemudian membentuk fitur lag 1–3, rolling mean, trend, persistence, cyclical month encoding, dan missing-data flags.
Model per horizon, metrik hindcast, Forecast LDI, forecast class, ranking, input completeness, dan status CDPI disimpan pada analytics layer sehingga dashboard dapat menampilkan hasil tanpa menjalankan ulang proses training.
WebGIS dan dashboard menyajikan kondisi monitoring aktual serta hasil forecast per horizon. Ketika observasi baru tersedia, pipeline dapat diperbarui dan model direfit sesuai prosedur validasi yang ditetapkan.
Keluaran sistem mencakup tabel desa dalam format CSV, GeoJSON, raster Forecast LDI dan kelas, layer WebGIS, ranking desa, serta tabel metrik hindcast. Setiap keluaran mempertahankan informasi horizon, model, dan atribut kualitas untuk mendukung traceability.
Validasi utama subsistem forecast menggunakan temporal hindcast dengan target tahun 2025 sebagai periode validasi. Kinerja model dihitung secara terpisah pada setiap horizon sehingga performa H+1 tidak diasumsikan identik dengan H+5.
Validasi indikator dilakukan dengan membandingkan SPI terhadap stasiun hujan atau indeks resmi, NDVI anomaly terhadap informasi vegetation stress atau kondisi tanaman, dan soil moisture terhadap observasi atau dataset alternatif. LDI dievaluasi menggunakan korelasi dan RMSE untuk data kontinu serta confusion matrix, precision, recall, F1-score, accuracy, dan Cohen’s Kappa untuk klasifikasi. CDPI dievaluasi berdasarkan kemampuan ranking, termasuk melalui Top-K Hit Rate.
Forecast LDI dibandingkan dengan LDI aktual menggunakan RMSE, MAE, dan R². Setelah dikonversi ke kelas kekeringan, evaluasi dilanjutkan menggunakan accuracy, macro precision, macro recall, dan macro-F1. RMSE digunakan sebagai kriteria utama pemilihan model pada setiap horizon.
Training dan tuning hanya menggunakan target sampai Desember 2024, sedangkan target sepanjang tahun 2025 diperlakukan sebagai periode yang belum diketahui oleh model.
Random split antar-pixel dihindari karena spatial autocorrelation dan pencampuran informasi lintas waktu dapat menghasilkan estimasi performa yang terlalu optimistis.
Confidence dibentuk dari data completeness, valid area, agreement antarindikator, konsistensi temporal, kestabilan ranking, dan error hindcast pada horizon terkait. Confidence tidak ditafsirkan sebagai probabilitas formal sebelum probabilistic prediction interval dikalibrasi secara eksplisit.
Bagian ini memuat isi dokumen metode_ilmiah_dengan_prediksi(1).docx sebagai rujukan metodologis utama. Terminologi, angka, batasan penelitian, formulasi matematis, dan safeguard forecast dipertahankan sesuai dokumen sumber.
PENGEMBANGAN SISTEM PERINGATAN DINI DAN PREDIKSI KEKERINGAN BERBASIS INTEGRASI INDEKS VEGETASI, CURAH HUJAN, DAN KELEMBABAN TANAH UNTUK PENENTUAN PRIORITAS INTERVENSI TINGKAT DESA
Kekeringan merupakan bencana hidrometeorologi yang berkembang secara perlahan, memiliki cakupan spasial luas, dan dapat berdampak langsung terhadap produktivitas pertanian, ketersediaan air, serta ketahanan pangan. Penelitian ini mengembangkan LBS Drought Early Warning System sebagai sistem monitoring, prediksi, dan pendukung keputusan tingkat desa berbasis integrasi CHIRPS, MODIS, dan ERA5-Land. Kerangka monitoring menggunakan Standardized Precipitation Index (SPI), standardized NDVI anomaly, dan standardized soil moisture anomaly untuk membentuk informasi kondisi kekeringan, kelas bahaya, agreement, persistence, trend, serta Composite Drought Priority Index (CDPI). Untuk memperluas fungsi dari monitoring menuju antisipasi, dikembangkan subsistem prediksi machine learning direct multi-horizon yang memproyeksikan kondisi satu sampai lima bulan ke depan. Panel historis bersama menggunakan periode 2001-01 sampai 2026-07, dengan baseline klimatologis CHIRPS 1981-2020 serta MODIS dan ERA5-Land 2001-2020. Fitur prediksi meliputi SPI-1, SPI-3, rainfall anomaly, NDVI anomaly, soil moisture anomaly, lag satu sampai tiga bulan, rolling mean, trend, persistence, seasonality siklik, koordinat spasial, dan indikator missing data. Model HistGradientBoosting, Random Forest, dan XGBoost dibandingkan secara terpisah untuk setiap horizon. Seleksi model dilakukan melalui temporal hindcast dengan target tahun 2025, menggunakan RMSE sebagai kriteria utama serta MAE, R2, accuracy, precision, recall, dan macro-F1 sebagai metrik pendukung. Model terpilih kemudian dilatih ulang menggunakan seluruh observasi tersedia sampai Juli 2026 untuk menghasilkan forecast Agustus-Desember 2026 pada 83.400 desa yang memiliki identitas administrasi valid. Keluaran prediksi mencakup Forecast LBS Drought Index, kelas kekeringan, ranking desa, metrik hindcast, CSV, GeoJSON, raster, dan WebGIS. Forecast CDPI hanya dihitung apabila tersedia riwayat target CDPI/coverage/affected area yang memadai; sistem tidak membentuk nilai CDPI sintetis. Pendekatan ini memperluas sistem dari pemetaan kondisi saat ini menjadi early warning yang bersifat antisipatif dan dapat ditelusuri secara metodologis.
Kata kunci: kekeringan; drought forecasting; machine learning; direct multi-horizon; SPI; NDVI anomaly; soil moisture anomaly; CHIRPS; MODIS; ERA5-Land; LDI; CDPI; WebGIS; hindcast.
Drought is a slow-onset hydrometeorological hazard with broad spatial extent and potentially substantial effects on agricultural productivity, water availability, and food security. This study extends the LBS Drought Early Warning System into an integrated village-level monitoring, forecasting, and decision-support framework based on CHIRPS, MODIS, and ERA5-Land. The monitoring framework uses the Standardized Precipitation Index (SPI), standardized NDVI anomaly, and standardized soil-moisture anomaly to characterize drought condition, class, indicator agreement, persistence, trend, and the Composite Drought Priority Index (CDPI). To move from monitoring toward anticipation, a direct multi-horizon machine-learning subsystem is developed to forecast one to five months ahead. The common historical panel covers January 2001 to July 2026, while climatological baselines are fixed at 1981-2020 for CHIRPS and 2001-2020 for MODIS and ERA5-Land. Forecast predictors include SPI-1, SPI-3, rainfall anomaly, NDVI anomaly, soil-moisture anomaly, one- to three-month lags, rolling means, trends, persistence, cyclic seasonality, spatial coordinates, and missing-data flags. HistGradientBoosting, Random Forest, and XGBoost are evaluated separately for each forecast horizon. Model selection uses a temporal hindcast with 2025 as the validation target period, prioritizing RMSE and reporting MAE, R2, accuracy, precision, recall, and macro-F1. The selected model family is then refitted using all observations available through July 2026 and used to generate forecasts for August-December 2026 for 83,400 villages with valid administrative identifiers. Outputs include Forecast LBS Drought Index, drought class, village ranking, hindcast metrics, CSV, GeoJSON, raster, and WebGIS layers. Forecast CDPI is computed only when sufficient historical CDPI, coverage, and affected-area targets are available; no synthetic CDPI values are introduced. The resulting framework extends drought mapping into an anticipatory and methodologically traceable early-warning system.
Keywords: drought; drought forecasting; machine learning; direct multi-horizon forecasting; SPI; NDVI anomaly; soil moisture anomaly; CHIRPS; MODIS; ERA5-Land; LDI; CDPI; WebGIS; hindcast.
Kekeringan merupakan fenomena kompleks yang dapat muncul sebagai kekeringan meteorologis, pertanian, hidrologis, maupun sosial-ekonomi. Berbeda dari bencana yang terjadi secara tiba-tiba, kekeringan berkembang secara bertahap sehingga awal dan akhir kejadiannya relatif sulit ditentukan. Wilhite dan Glantz (1985) menekankan bahwa kekeringan tidak memiliki satu definisi universal karena karakteristiknya bergantung pada tujuan analisis, komponen sistem yang terdampak, dan skala waktu yang diamati. Kompleksitas tersebut menyebabkan pemantauan kekeringan membutuhkan lebih dari satu indikator.
Curah hujan merupakan pemicu awal yang paling langsung untuk mendeteksi kekeringan meteorologis. Namun, rendahnya curah hujan pada suatu periode belum tentu langsung menghasilkan kerusakan vegetasi. Kondisi vegetasi dipengaruhi pula oleh cadangan air tanah, jenis tanaman, fase pertumbuhan, irigasi, karakteristik tanah, dan kondisi atmosfer. Demikian juga kelembaban tanah dapat menunjukkan respons yang berbeda terhadap defisit curah hujan bergantung pada kedalaman tanah, evapotranspirasi, dan kapasitas penyimpanan air. Oleh karena itu, integrasi indikator meteorologi, vegetasi, dan kelembaban tanah berpotensi memberikan gambaran kekeringan yang lebih komprehensif dibandingkan penggunaan parameter tunggal.
Perkembangan data penginderaan jauh dan reanalisis iklim memungkinkan pemantauan kekeringan dalam cakupan wilayah luas dengan kontinuitas temporal yang relatif tinggi. CHIRPS menyediakan seri curah hujan jangka panjang dengan resolusi spasial yang sesuai untuk analisis regional (Funk et al., 2015). Produk MODIS menyediakan indikator vegetasi yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi penyimpangan kondisi vegetasi terhadap keadaan historis (Didan, 2015). ERA5 dan ERA5-Land menyediakan data reanalisis atmosfer dan daratan yang dapat digunakan untuk menggambarkan kondisi kelembaban tanah secara konsisten (Hersbach et al., 2020; Muñoz-Sabater et al., 2021).
Meskipun demikian, tersedianya peta kekeringan belum otomatis menghasilkan informasi yang siap digunakan oleh pengambil keputusan. Pemerintah daerah dan lembaga penanggulangan bencana memerlukan informasi yang menjawab pertanyaan operasional: wilayah mana yang harus diperhatikan terlebih dahulu, seberapa luas daerah terdampak, apakah kondisi memburuk, dan seberapa kuat bukti antarindikator terhadap kejadian tersebut? Kebutuhan tersebut menuntut transformasi dari drought monitoring menjadi drought decision support.
Penelitian ini mengembangkan LBS Drought Early Warning System dengan menjadikan desa sebagai unit administrasi akhir. Sistem tidak hanya menghasilkan kelas kekeringan, tetapi juga menghitung cakupan wilayah terdampak, luas terdampak, persistensi, tren perubahan, tingkat kesepakatan antarindikator, kepercayaan data, dan indeks prioritas intervensi. Pendekatan ini ditujukan untuk menjembatani kesenjangan antara analisis lingkungan berbasis raster dan kebutuhan operasional berbasis wilayah administrasi. Pengembangan terbaru menambahkan subsistem prediksi direct multi-horizon sehingga sistem tidak hanya menjawab kondisi kekeringan saat ini, tetapi juga mengestimasi kecenderungan kondisi desa satu sampai lima bulan ke depan. Prediksi diposisikan sebagai dukungan antisipatif yang harus selalu dibaca bersama metrik hindcast dan kelengkapan data, bukan sebagai kepastian deterministik.
Penelitian dirumuskan melalui pertanyaan berikut:
Bagaimana membangun model prediksi kekeringan tingkat desa untuk horizon H+1 sampai H+5 tanpa menggunakan informasi masa depan sebagai predictor?
Bagaimana mengevaluasi kemampuan generalisasi model prediksi melalui temporal hindcast, memilih model terbaik per horizon, dan menyajikan ketidakpastian secara transparan?
Penelitian ini bertujuan untuk:
mengembangkan model machine learning direct multi-horizon untuk memprediksi LDI dan kelas kekeringan satu sampai lima bulan ke depan;
mengevaluasi model prediksi menggunakan temporal hindcast dan metrik regresi serta klasifikasi; dan
mengintegrasikan hasil prediksi ke dalam CSV, raster, GeoJSON, WebGIS, dan dashboard sebagai informasi anticipatory early warning.
Secara ilmiah, penelitian memberikan kerangka integrasi multiindikator yang menghubungkan kekeringan meteorologis, kelembaban tanah, dan respons vegetasi. Secara praktis, penelitian menghasilkan informasi yang dapat digunakan untuk memprioritaskan pemantauan lapangan, distribusi air, koordinasi lintas wilayah, dan perencanaan intervensi. Secara teknis, penelitian menyediakan rancangan pipeline yang dapat diperbarui secara periodik dan diintegrasikan dengan sistem informasi spasial. Penambahan prediksi memberikan manfaat tambahan berupa lead time bagi perencanaan verifikasi lapangan, kesiapan sumber air, penjadwalan koordinasi, dan penyusunan prioritas wilayah sebelum dampak kekeringan meningkat.
Ruang lingkup penelitian dibatasi pada aspek berikut:
Forecast menggunakan pendekatan statistik direct multi-horizon berbasis observasi historis sampai Juli 2026 untuk horizon Agustus-Desember 2026; model ini bukan seasonal climate forecast dinamis dari model atmosfer.
Unit administrasi sumber berjumlah 83.486 polygon; sebanyak 86 record tanpa ID desa resmi dikeluarkan dari panel time series, sehingga unit analisis forecast berjumlah 83.400 desa.
Forecast CDPI tidak dipaksakan apabila riwayat target CDPI, coverage, dan affected area belum memadai untuk pelatihan; dalam kondisi tersebut ranking prediktif menggunakan Forecast LDI dan kelas kekeringan.
Kekeringan umumnya dibedakan menjadi kekeringan meteorologis, pertanian, hidrologis, dan sosial-ekonomi. Kekeringan meteorologis berkaitan dengan kekurangan presipitasi terhadap kondisi normal dalam periode tertentu. Kekeringan pertanian berkaitan dengan ketidakcukupan kelembaban tanah untuk memenuhi kebutuhan tanaman. Kekeringan hidrologis berkaitan dengan berkurangnya aliran sungai, simpanan waduk, atau air tanah. Kekeringan sosial-ekonomi muncul ketika keterbatasan sumber daya air memengaruhi permintaan dan pasokan barang atau jasa (Mishra & Singh, 2010; Van Loon, 2015).
Hubungan antarjenis kekeringan bersifat berurutan tetapi tidak selalu linier. Defisit hujan dapat menjadi sinyal awal, diikuti penurunan kelembaban tanah dan kemudian tekanan vegetasi. Karena terdapat lag time, sistem multiindikator dapat membantu mengidentifikasi fase kejadian secara lebih baik daripada satu indikator.
SPI diperkenalkan oleh McKee et al. (1993) untuk menilai defisit atau surplus curah hujan pada berbagai skala waktu. Kelebihan utama SPI adalah sifatnya yang terstandarisasi sehingga kondisi pada lokasi dengan karakteristik curah hujan berbeda dapat dibandingkan dalam satu skala probabilistik. WMO kemudian merekomendasikan SPI sebagai salah satu indeks utama untuk pemantauan kekeringan meteorologis.
SPI-1 lebih sensitif terhadap perubahan jangka pendek, sedangkan SPI-3 dapat menggambarkan akumulasi defisit selama beberapa bulan dan relevan untuk kekeringan pertanian musiman. Penggunaan lebih dari satu skala membantu membedakan sinyal awal dari kondisi yang telah persisten.
Normalized Difference Vegetation Index memanfaatkan perbedaan reflektansi kanal inframerah-dekat dan merah untuk menggambarkan kehijauan vegetasi (Rouse et al., 1974). NDVI absolut berbeda menurut tipe vegetasi dan musim, sehingga perbandingan nilai aktual terhadap baseline klimatologis pada bulan yang sama lebih tepat untuk mengidentifikasi tekanan vegetasi.
Dalam penelitian ini digunakan standardized NDVI anomaly agar hasil lebih mudah dibandingkan lintas wilayah. Nilai negatif pada NDVI anomaly berarti vegetasi berada di bawah kondisi historis normal. Untuk konsistensi fusion, arah indikator kemudian dibalik sehingga nilai positif selalu menunjukkan kondisi yang lebih kering.
Kelembaban tanah menghubungkan kondisi meteorologis dengan respons vegetasi. Penurunan curah hujan dapat mengurangi kelembaban tanah, tetapi responsnya tergantung pada tekstur tanah, evapotranspirasi, kedalaman lapisan tanah, dan penyimpanan air. ERA5-Land menyediakan representasi variabel permukaan daratan dengan resolusi yang lebih detail dibanding ERA5 global dan memungkinkan analisis kelembaban tanah pada beberapa lapisan (Muñoz-Sabater et al., 2021).
Untuk aplikasi yang berorientasi pertanian, penggunaan lapisan akar (root-zone) lebih representatif dibanding hanya permukaan 0–7 cm, karena akar tanaman memanfaatkan air dari lapisan yang lebih dalam.
Indeks komposit dikembangkan karena tidak ada satu indikator yang dapat menggambarkan seluruh dimensi kekeringan. Integrasi indeks memungkinkan informasi penyebab, keadaan medium, dan respons lingkungan dipertimbangkan secara bersama. Pendekatan multivariat juga digunakan pada sejumlah studi kekeringan untuk meningkatkan konsistensi deteksi dan mengurangi ketergantungan pada satu variabel (Hao & AghaKouchak, 2013).
Namun, fusion menimbulkan tantangan berupa perbedaan skala, arah interpretasi, distribusi statistik, serta bobot antarindikator. Oleh karena itu, normalisasi dan uji sensitivitas bobot menjadi bagian penting dalam metodologi.
Sistem peringatan dini bukan hanya sistem visualisasi. Suatu sistem disebut operasional apabila mampu mengidentifikasi perubahan kondisi, menentukan threshold, memberikan tingkat peringatan, dan menghubungkan informasi tersebut dengan tindakan yang dapat diprioritaskan. Dalam konteks penelitian ini, LDI berfungsi sebagai indikator kondisi/hazard, sedangkan CDPI berfungsi sebagai indeks prioritas intervensi administratif.
Prediksi kekeringan dapat dirumuskan sebagai masalah supervised time-series forecasting ketika kondisi masa lalu digunakan untuk mengestimasi kondisi pada horizon mendatang. Model berbasis pohon keputusan relevan karena mampu menangkap hubungan nonlinier, interaksi antarindikator, dan efek threshold tanpa mengharuskan bentuk hubungan parametrik yang kaku. Random Forest mengurangi varians melalui ensemble banyak pohon (Breiman, 2001), sedangkan gradient boosting membangun model secara bertahap untuk memperbaiki residual sebelumnya (Friedman, 2001). XGBoost menambahkan regularisasi dan optimasi komputasi yang efisien untuk dataset berskala besar (Chen & Guestrin, 2016).
Untuk multi-step forecasting, pendekatan direct multi-horizon melatih model terpisah untuk setiap horizon. Strategi ini dipilih agar kesalahan prediksi H+1 tidak secara otomatis diteruskan ke H+2, H+3, dan seterusnya seperti pada recursive forecasting. Validasi dilakukan berdasarkan urutan waktu, bukan random split, karena pemisahan acak dapat mencampurkan informasi masa depan ke data pelatihan dan menghasilkan estimasi performa yang terlalu optimistis. Prinsip yang sama berlaku untuk data spasial-temporal yang memiliki autocorrelation (Roberts et al., 2017).
Dalam penelitian ini, machine learning tidak menggantikan definisi indikator kekeringan. Model digunakan untuk mempelajari hubungan temporal antara indikator historis, dinamika LDI, seasonality, dan karakteristik lokasi terhadap kondisi LDI pada horizon berikutnya. Dengan demikian, interpretabilitas sistem tetap berakar pada SPI, NDVI, soil moisture, trend, dan persistence.
Tabel 1 merangkum data utama yang digunakan.
Tabel 1. Ringkasan data dan fungsi dalam model
| Dataset | Variabel Utama | Resolusi Temporal | Resolusi Spasial Representatif | Fungsi dalam Model |
|---|---|---|---|---|
| CHIRPS | Curah hujan | Harian/bulanan | ±0,05° | Perhitungan SPI, rainfall anomaly, dan predictor forecast |
| MODIS MOD13Q1 | NDVI dan QA | 16 harian | 250 m | Vegetation stress, anomaly, lag/trend, dan predictor forecast |
| ERA5-Land | Volumetric soil water | Sub-harian/harian | grid daratan ±9 km; distribusi CDS sekitar 0,1° | Soil moisture deficit, anomaly, agreement, dan predictor forecast |
| Batas administrasi | Provinsi, kabupaten, kecamatan, desa | Relatif statis | Vektor | Agregasi dan reporting |
Catatan: resolusi dataset harus didokumentasikan berdasarkan produk dan versi yang digunakan pada saat replikasi. Resampling tidak dianggap meningkatkan resolusi informasi asli.
CHIRPS digunakan sebagai sumber curah hujan karena memiliki seri historis panjang dan cakupan spasial luas. Data harian dapat diagregasikan menjadi total bulanan. Pada implementasi, versi produk dan tanggal pengunduhan perlu dicatat untuk memastikan reproducibility.
MOD13Q1 digunakan untuk mengidentifikasi respons vegetasi. Selain layer NDVI, layer Quality Assurance harus digunakan untuk memfilter observasi berkualitas rendah, awan, salju, dan pixel tidak valid sebelum agregasi bulanan.
ERA5-Land digunakan sebagai representasi kelembaban tanah. Penelitian mengutamakan kombinasi lapisan 0–7 cm dan 7–28 cm untuk membentuk representasi 0–28 cm. Lapisan lebih dalam dapat digunakan pada uji sensitivitas.
Batas administrasi berfungsi sebagai unit pelaporan. Data harus memiliki kode wilayah yang konsisten agar dapat dihubungkan dengan atribut kabupaten, kecamatan, dan provinsi. Geometri perlu diperiksa terhadap masalah seperti polygon invalid, overlap, gap, dan multipart geometry.
Perhitungan anomali dilakukan berdasarkan bulan kalender yang sama. Sebagai contoh, kondisi Agustus dibandingkan terhadap seluruh observasi Agustus pada periode baseline, bukan terhadap rata-rata Januari-Desember. Pada implementasi penelitian, baseline ditetapkan 1981-2020 untuk CHIRPS serta 2001-2020 untuk MODIS dan ERA5-Land. Baseline dibuat tetap selama proses hindcast dan inference agar tidak terjadi leakage dari periode target ke parameter klimatologi.
Dataset prediksi dibentuk pada unit desa-bulan. CHIRPS tersedia sejak 1981 untuk pembentukan baseline SPI, sedangkan common analysis period untuk integrasi MODIS, ERA5-Land, dan target model adalah Januari 2001 sampai Juli 2026. Dengan 307 bulan dan 83.400 desa ber-ID valid, panel teoritis maksimum berjumlah 25.603.800 record desa-bulan sebelum memperhitungkan missing indicator. Missing value tidak diisi dengan nilai fiktif; pipeline mempertahankan missingness dan model menggunakan median imputation serta missing-data flags pada fitur yang relevan.
Cut-off observasi operasional ditetapkan Juli 2026. Dari satu base month yang sama, sistem menghasilkan lima horizon secara langsung: H+1 Agustus 2026, H+2 September 2026, H+3 Oktober 2026, H+4 November 2026, dan H+5 Desember 2026. Tidak ada prediksi bulan antara yang digunakan sebagai input untuk horizon berikutnya; setiap horizon memiliki modelnya sendiri.
Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif-spasial berbasis multi-indicator drought assessment. Analisis dilakukan pada dua tingkatan. Tingkat pertama adalah analisis raster untuk menghasilkan kondisi kekeringan spasial melalui LDI. Tingkat kedua adalah analisis administrasi desa untuk menghasilkan statistik dampak dan prioritas intervensi melalui CDPI.
Gambar 1. Kerangka metodologi monitoring, agregasi desa, dan prioritas intervensi.
Alur umum terdiri atas akuisisi data, quality control, harmonisasi temporal, harmonisasi spasial, perhitungan indikator, standardisasi, fusion, klasifikasi, agregasi desa, perhitungan prioritas, early warning, validasi, dan penyajian pada sistem informasi. Subsistem prediksi ditambahkan setelah pembentukan panel historis, dengan alur feature engineering, temporal hindcast, seleksi model per horizon, refit model final, inference H+1 sampai H+5, serta penyajian forecast pada unit desa.
Tahap preprocessing meliputi:
Semua indikator dikonversi menjadi representasi bulanan agar satu periode analisis membandingkan kondisi temporal yang konsisten.
Total curah hujan bulanan dihitung sebagai:
Dengan adalah total curah hujan pada bulan ke-, adalah curah hujan harian, dan adalah jumlah hari dalam bulan.
Untuk SPI skala , curah hujan diakumulasi sebagai:
Penelitian menggunakan SPI-1 sebagai sinyal jangka pendek dan SPI-3 sebagai indikator utama kondisi defisit hujan akumulatif.
Setelah Quality Assurance masking, observasi valid dalam bulan yang sama diagregasikan menggunakan median:
Median dipilih untuk mengurangi pengaruh observasi ekstrem dan residual cloud contamination.
Nilai soil moisture bulanan dihitung sebagai rata-rata observasi valid:
Untuk membentuk estimasi kelembaban tanah 0–28 cm dari dua lapisan ERA5-Land digunakan pembobotan ketebalan lapisan:
Dengan mewakili lapisan 0–7 cm dan mewakili lapisan 7–28 cm.
Perbedaan resolusi spasial merupakan isu metodologis penting. Seluruh data tidak langsung dinaikkan ke resolusi 250 m karena proses tersebut dapat menciptakan pseudo-spatial precision. Sebaliknya, analisis fusion dilakukan pada common analysis grid yang mempertimbangkan resolusi terkasar variabel utama. Resampling diposisikan sebagai kebutuhan grid alignment, bukan peningkatan informasi.
Variabel kontinu dapat menggunakan bilinear interpolation pada tahap alignment, sedangkan layer kategorikal menggunakan nearest-neighbor. Untuk perhitungan luas, raster dan batas desa diproyeksikan ke sistem koordinat equal-area yang sesuai agar estimasi luas tidak bias akibat distorsi lintang-bujur.
SPI tidak dihitung sebagai z-score sederhana dari curah hujan. Akumulasi curah hujan terlebih dahulu dipasangkan pada distribusi probabilitas, lazimnya distribusi gamma untuk curah hujan positif:
Dengan sebagai shape parameter dan sebagai scale parameter. Probabilitas kumulatif kemudian ditransformasikan ke distribusi normal baku:
Nilai SPI negatif menunjukkan kondisi lebih kering daripada kondisi historis. Agar seluruh indikator memiliki arah interpretasi yang sama pada proses fusion, digunakan:
Dengan demikian, nilai yang semakin tinggi menunjukkan kondisi meteorologis yang semakin kering.
Untuk setiap bulan kalender dihitung rata-rata dan standar deviasi NDVI historis. Standardized NDVI anomaly dihitung sebagai:
Karena nilai negatif merepresentasikan vegetasi lebih buruk dari normal, orientasi dibalik:
Pendekatan bulan-kalender mengurangi bias seasonality karena NDVI secara alami memiliki pola musiman.
Standardized soil moisture anomaly dihitung dengan:
Orientasi indikator kemudian dibalik:
Semakin tinggi , semakin besar defisit kelembaban tanah relatif terhadap kondisi historis bulan yang sama.
Ketiga indikator digabungkan menggunakan weighted linear fusion:
Dengan kendala:
Model baseline menggunakan bobot sama, yaitu . Bobot tersebut tidak dianggap sebagai bobot final, tetapi menjadi baseline untuk dibandingkan dengan skenario bobot lain melalui sensitivity analysis, expert judgement, atau optimasi terhadap data kejadian historis.
Karena hasil weighted sum tidak otomatis mengikuti distribusi normal baku, distandardisasi kembali terhadap baseline historis:
Nilai positif yang lebih besar menunjukkan kondisi lebih kering daripada baseline historis.
Threshold awal LDI-Z ditetapkan seperti Tabel 2. Threshold bersifat initial operational threshold dan perlu dikalibrasi menggunakan kejadian historis.
Tabel 2. Klasifikasi awal LBS Drought Index
| LDI-Z | Kelas | Kategori |
|---|---|---|
| < 0,50 | 0 | Normal |
| 0,50–0,99 | 1 | Waspada |
| 1,00–1,49 | 2 | Kering Ringan |
| 1,50–1,99 | 3 | Kering Sedang |
| 2,00–2,49 | 4 | Kering Berat |
| ≥ 2,50 | 5 | Ekstrem |
Untuk memperlihatkan konsistensi bukti antarindikator, dihitung jumlah indikator yang melewati threshold kekeringan:
Nilai 0/3 menunjukkan tidak ada sinyal, 1/3 menunjukkan indikasi lemah, 2/3 menunjukkan dukungan cukup kuat, dan 3/3 menunjukkan kesepakatan tinggi. Layer ini tidak menggantikan LDI, tetapi menjadi indikator confidence interpretatif.
Raster kelas kekeringan dioverlay dengan batas desa menggunakan area-weighted zonal statistics. Pendekatan area-weighted diperlukan untuk pixel yang terpotong oleh batas desa.
Mean Severity desa dihitung sebagai:
Dengan adalah kelas kekeringan pixel, adalah luas bagian pixel dalam desa, dan pembagi 5 menormalisasi severity ke rentang 0–1.
Dominant Severity adalah kelas yang mencakup luas terbesar di dalam desa. Indikator ini digunakan untuk komunikasi sederhana, tetapi tidak menjadi satu-satunya dasar prioritas karena area berat yang lebih kecil dapat hilang apabila hanya modus kelas yang dilaporkan.
Drought Coverage dihitung sebagai proporsi area valid yang mengalami minimal Kering Ringan:
Untuk mengidentifikasi area minimal Kering Sedang dihitung:
Luas kekeringan desa dihitung sebagai:
Nilai dapat dilaporkan dalam hektare atau kilometer persegi.
Keluaran desa juga memuat jumlah pixel valid, proporsi area valid, agreement, dan indikator kelengkapan data. Hal ini penting karena beberapa desa berukuran lebih kecil daripada footprint data terkasar. Oleh sebab itu, istilah “tingkat desa” dalam penelitian berarti unit agregasi dan pengambilan keputusan, bukan klaim bahwa seluruh input memiliki resolusi fisik setingkat desa.
CDPI dirancang untuk membedakan kondisi kekeringan dari prioritas intervensi. Tiga komponen digunakan: severity, coverage, dan drought area.
Severity dinormalisasi melalui , sedangkan coverage dinormalisasi sebagai . Karena luas desa sangat bervariasi dan dapat mendominasi indeks, komponen area ditransformasikan secara logaritmik:
CDPI dihitung sebagai:
Dengan:
Skenario awal menggunakan , , dan . Severity diberi bobot terbesar agar wilayah sangat luas tetapi hanya sedikit terdampak tidak otomatis mendominasi ranking. Bobot diuji melalui sensitivity analysis.
Interpretasi awal CDPI ditunjukkan pada Tabel 3.
Tabel 3. Interpretasi awal Composite Drought Priority Index
| CDPI | Prioritas |
|---|---|
| 0–20 | Rendah |
| >20–40 | Sedang |
| >40–60 | Tinggi |
| >60–80 | Sangat Tinggi |
| >80–100 | Kritis |
Selain kelas, sistem menghasilkan national rank dan provincial rank sehingga sumber daya yang terbatas dapat diarahkan kepada Top-N desa.
Persistensi dihitung sebagai jumlah periode berurutan ketika LDI melampaui threshold:
Kondisi satu periode diperlakukan sebagai kejadian baru, dua periode sebagai persistent drought, dan tiga periode atau lebih sebagai prolonged drought. Nilai operasional akhir harus disesuaikan dengan frekuensi pembaruan sistem.
Perubahan kondisi dihitung dengan:
Nilai positif menunjukkan kondisi memburuk, nilai mendekati nol menunjukkan stabil, dan nilai negatif menunjukkan perbaikan. Trend memberikan konteks temporal sehingga dua desa dengan severity sama dapat memiliki urgensi berbeda.
Mekanisme peringatan dini mengkombinasikan LDI, trend, persistence, coverage, dan agreement. Struktur awal dijelaskan pada Tabel 4.
Tabel 4. Struktur awal level peringatan dini
| Level | Nama | Contoh Aturan Operasional |
|---|---|---|
| 0 | Normal | Tidak ada sinyal kekeringan berarti |
| 1 | Watch | SPI-1 defisit, LDI Waspada, atau tren memburuk dua periode |
| 2 | Warning | LDI minimal Kering Ringan dan/atau minimal 2 dari 3 indikator kering |
| 3 | Severe Warning | LDI minimal Kering Sedang, coverage melewati threshold, agreement ≥2/3 |
| 4 | Critical | Kering Berat/Ekstrem dengan cakupan tinggi dan CDPI Kritis |
Aturan final tidak ditetapkan hanya berdasarkan expert judgement, tetapi dikalibrasi terhadap kejadian historis untuk mengendalikan false alarm dan missed detection.
Subsistem prediksi dirancang sebagai direct multi-horizon supervised regression. Satu snapshot fitur pada bulan t dipetakan secara langsung ke target LDI pada t+h. Lima model horizon dilatih secara independen untuk h = 1, 2, 3, 4, dan 5. Strategi direct dipilih untuk mengurangi propagasi error karena hasil prediksi H+1 tidak menjadi input wajib bagi model H+2 dan seterusnya.
Kerangka monitoring tetap menggunakan tiga indikator sebagai evidence kekeringan. Untuk forecast engine yang diimplementasikan saat ini, target regresi operasional dibuat dari komponen meteorologis akumulatif dan respons vegetasi yang memiliki panel historis paling konsisten, sedangkan soil moisture anomaly dipertahankan sebagai predictor, indikator agreement, dan informasi confidence. Pemisahan target dan predictor ini juga menghindari penggunaan soil moisture secara ganda di dalam target dan fitur model.
Definisi tersebut merupakan target forecast operasional pada implementasi saat ini dan tidak menghilangkan peran soil moisture dalam kerangka multiindikator. Apabila pada tahap kalibrasi berikutnya tersedia target historical LDI tiga-indikator yang telah tervalidasi secara konsisten, forecast target dapat diganti tanpa mengubah arsitektur direct multi-horizon.
Untuk setiap desa v dan base month t, predictor hanya menggunakan informasi yang tersedia pada atau sebelum t. Target dibentuk dari LDI pada t+h. Observasi yang targetnya belum tersedia tidak digunakan untuk training. Climatological baseline tetap menggunakan periode historis yang telah ditentukan sebelumnya dan tidak dihitung ulang dengan memasukkan tahun validasi atau forecast. Koordinat geografis bersifat statis, sedangkan month encoding hanya menggunakan identitas kalender dan tidak mengandung observasi masa depan.
Pada implementasi komputasional, panel nasional berukuran sangat besar sehingga training menggunakan event-enriched sampling: observasi kering (LDI >= 1,00) dipertahankan dengan proporsi lebih tinggi bersama sampel acak dari kondisi lain. Batas ukuran data digunakan untuk efisiensi RAM dan waktu komputasi, sedangkan inference final tetap dilakukan untuk seluruh 83.400 desa. Karena validation sample juga dipadatkan untuk komputasi, metrik hindcast harus ditafsirkan sebagai evaluasi pada sampel validasi dan sebaiknya dilengkapi full-population evaluation pada pengembangan berikutnya.
Feature engineering dibangun untuk menangkap kondisi saat ini, memori temporal, arah perubahan, persistensi, seasonality, dan posisi spasial. Semua fitur numerik disusun pada base month yang sama sebelum model horizon diterapkan.
| Kelompok | Fitur Utama | Fungsi |
|---|---|---|
| Meteorologis | SPI-1, SPI-3, rainfall anomaly t, lag 1-3 | Sinyal defisit jangka pendek dan akumulatif |
| Vegetasi | NDVI anomaly t, lag 1-3, trend 1 bulan, rolling mean 3 bulan | Respons vegetasi dan momentum perubahan |
| Soil moisture | SM anomaly t, lag 1-3, trend 1 bulan, rolling mean 3 bulan | Kondisi medium penyimpanan air dan predictor pertanian |
| Hazard historis | LDI t, lag 1-3, LDI trend | Memori kondisi kekeringan terdahulu |
| Persistensi | Jumlah tiga periode terakhir dengan LDI >= 1,00 | Membedakan kejadian baru dan menetap |
| Temporal | sin/cos current month dan target month | Representasi seasonality tanpa diskontinuitas Desember-Januari |
| Spasial & kualitas | latitude, longitude, NDVI-missing flag, SM-missing flag | Konteks lokasi dan transparansi kelengkapan input |
| Forecast | forecast month, horizon, Forecast LDI, forecast class, model | |
| Model validation | hindcast RMSE, MAE, R2, accuracy, macro precision/recall/F1 | |
| Forecast quality | baseline agreement, input completeness, CDPI status |
Tabel 7. Kelompok fitur pada subsistem prediksi multi-horizon.
Missing value yang berasal dari cloud contamination, NoData, atau keterbatasan coverage tidak diubah menjadi angka observasi semu. Di dalam pipeline model, SimpleImputer dengan strategi median digunakan setelah temporal split, sedangkan missing-data flags mempertahankan informasi bahwa suatu predictor awalnya tidak tersedia. Target LDI yang tidak valid tidak digunakan sebagai label training.
Tiga keluarga model dibandingkan: HistGradientBoostingRegressor sebagai gradient-boosting baseline yang efisien untuk data besar, RandomForestRegressor sebagai bagging ensemble yang robust terhadap nonlinearitas, dan XGBoost apabila paket tersedia pada lingkungan komputasi. Model dibandingkan secara terpisah untuk setiap horizon karena tingkat kesulitan forecast dapat berubah seiring bertambahnya lead time.
RMSE digunakan sebagai kriteria utama karena mempertahankan penalti lebih besar terhadap kesalahan ekstrem. MAE dan R2 dilaporkan sebagai metrik regresi pendukung. Predicted LDI juga dikonversi menggunakan threshold kelas yang sama untuk menghitung accuracy, macro precision, macro recall, dan macro F1. Macro-F1 digunakan sebagai informasi tambahan agar performa pada kelas minoritas tidak tertutup oleh dominasi kelas Normal.
Temporal hindcast dipakai sebagai validasi utama forecasting. Untuk setiap horizon, training-tuning menggunakan target yang tanggalnya tidak melewati Desember 2024, sedangkan target sepanjang 2025 diperlakukan sebagai data yang belum diketahui. Model memprediksi target 2025 dari fitur historis sebelum target tersebut, kemudian hasilnya dibandingkan dengan observasi aktual 2025. Struktur ini meniru kondisi operasional forecast dan mencegah random time leakage.
Seleksi model dilakukan per horizon berdasarkan RMSE hindcast terendah. Nilai performa dicatat secara terpisah untuk H+1 sampai H+5 karena error secara teoritis dapat meningkat pada horizon yang lebih panjang. Setelah keluarga model terpilih, model validasi tidak langsung digunakan untuk inference final; model dibangun ulang menggunakan data historis yang lebih lengkap.
Setelah model terbaik per horizon ditentukan, keluarga model yang sama dilatih ulang menggunakan seluruh pasangan predictor-target observasional yang tersedia sampai Juli 2026. Base month inference adalah Juli 2026. Satu matriks fitur Juli 2026 kemudian dikirim ke lima model horizon untuk menghasilkan prediksi Agustus sampai Desember 2026 secara paralel.
Gambar 2. Kerangka direct multi-horizon forecasting pada LBS Drought Engine.
| Horizon | Base Month | Target | Model |
|---|---|---|---|
| H+1 | Jul 2026 | Aug 2026 | Model horizon 1 |
| H+2 | Jul 2026 | Sep 2026 | Model horizon 2 |
| H+3 | Jul 2026 | Oct 2026 | Model horizon 3 |
| H+4 | Jul 2026 | Nov 2026 | Model horizon 4 |
| H+5 | Jul 2026 | Dec 2026 | Model horizon 5 |
Tabel 8. Hubungan base month, horizon, dan target forecast.
Nilai Forecast LDI dikonversi ke enam kelas menggunakan threshold yang sama dengan LDI operasional: Normal, Waspada, Kering Ringan, Kering Sedang, Kering Berat, dan Ekstrem. Setiap output desa menyimpan forecast month, horizon, nilai LDI, kelas, nama model terpilih, serta metrik hindcast model horizon tersebut. Ranking prediktif disusun berdasarkan Forecast LDI dari nilai tertinggi ke terendah untuk mengidentifikasi desa yang memerlukan perhatian awal.
Forecast ranking berbeda dari CDPI. LDI menggambarkan severity/hazard yang diperkirakan, sedangkan CDPI memerlukan informasi coverage dan affected area. Oleh karena itu, keduanya tidak dipertukarkan secara terminologis.
Ketidakpastian forecast disajikan melalui metrik hindcast per horizon, kelengkapan input, baseline indicator agreement, dan lead time. Sistem tidak menginterpretasikan model output sebagai probabilitas kejadian apabila model belum menghasilkan probabilistic prediction interval. Secara operasional, confidence cenderung menurun ketika horizon semakin panjang atau input aktual semakin tidak lengkap.
Forecast CDPI hanya diaktifkan apabila tersedia riwayat observasional CDPI atau komponen severity, coverage, dan affected area dalam panjang seri yang memadai untuk membangun target supervised. Pada implementasi saat ini digunakan safeguard minimum riwayat target sebelum forecast CDPI diizinkan. Apabila syarat tidak terpenuhi, kolom Forecast CDPI dibiarkan kosong dan diberi status eksplisit, sehingga sistem tidak menciptakan nilai prioritas sintetis yang tidak dapat divalidasi.
Validasi dilakukan pada empat level: indikator, LDI monitoring, CDPI monitoring, dan model forecast.
Pertama, validasi indikator. SPI dibandingkan dengan stasiun hujan atau indeks resmi apabila tersedia. NDVI anomaly dibandingkan dengan laporan vegetation stress atau kondisi tanaman. Soil moisture dibandingkan dengan observasi kelembaban tanah atau dataset alternatif.
Kedua, validasi LDI. LDI dapat dibandingkan dengan laporan kejadian kekeringan, gagal panen/puso, distribusi air bersih, kondisi reservoir, atau indikator independen lain. Untuk data kontinu dapat digunakan Pearson/Spearman correlation dan RMSE bila tersedia reference value. Untuk klasifikasi digunakan confusion matrix, precision, recall, F1-score, accuracy, dan Cohen’s Kappa.
Ketiga, validasi CDPI. CDPI dievaluasi berdasarkan kemampuan ranking mengidentifikasi wilayah yang benar-benar memperoleh atau memerlukan intervensi. Salah satu ukuran yang relevan adalah Top-K Hit Rate, misalnya persentase desa terdampak aktual yang ditemukan pada Top 10, Top 50, atau Top 100 ranking CDPI. Keempat, validasi forecast dilakukan melalui temporal hindcast per horizon. Nilai prediksi LDI dibandingkan dengan LDI aktual menggunakan RMSE, MAE, dan R2; setelah thresholding, kelas prediksi dievaluasi menggunakan accuracy, precision, recall, dan macro-F1. Metrik wajib dilaporkan per horizon karena performa H+1 tidak boleh diasumsikan sama dengan H+5.
Random split antar-pixel dihindari karena spatial autocorrelation dapat menyebabkan hasil validasi terlalu optimistis. Validasi dilakukan melalui temporal holdout, event-based validation, serta perbandingan performa antarwilayah atau zona iklim. Pendekatan ini membantu menguji kemampuan generalisasi model pada kejadian dan wilayah yang tidak digunakan saat kalibrasi. Pada forecast engine, temporal holdout operasional menggunakan target 2025 sebagai hindcast, kemudian model terpilih direfit menggunakan observasi sampai Juli 2026. Untuk pengembangan lanjutan disarankan rolling-origin evaluation lintas beberapa tahun agar variasi kondisi basah-kering tercakup lebih luas.
Sensitivity analysis dilakukan pada:
pemilihan fitur lag dan rolling window;
keluarga model dan hyperparameter; serta
lead time H+1 sampai H+5.
Model dianggap lebih robust apabila variasi parameter yang wajar tidak menyebabkan perubahan ekstrem pada pola utama kekeringan dan ranking desa prioritas.
Confidence indicator dibentuk dari kelengkapan data, valid area, agreement antarindikator, konsistensi temporal, dan kestabilan ranking pada sensitivity analysis. Hasil dapat disajikan sebagai High, Medium, atau Low Confidence. Indikator ini membantu pengguna membedakan sinyal kuat dari wilayah yang memerlukan verifikasi lapangan lebih lanjut. Untuk hasil prediksi, confidence juga mempertimbangkan error hindcast model pada horizon terkait. Confidence tidak boleh ditafsirkan sebagai probabilitas formal kecuali model probabilistik atau prediction interval telah dikalibrasi secara eksplisit.
Sistem dikembangkan dalam empat lapisan utama: data, processing, analytics, dan serving. Output disajikan melalui WebGIS, dashboard, dan operational report.
Gambar 3. Arsitektur konseptual implementasi monitoring dan serving system.
Data layer menyimpan raw data, processed data, batas administrasi, metadata, dan riwayat versi. Untuk reproducibility, setiap periode pemrosesan idealnya memiliki timestamp, source version, processing version, dan status quality control.
Processing layer menjalankan preprocessing, agregasi temporal, baseline calculation, SPI, NDVI anomaly, soil moisture anomaly, harmonisasi grid, fusion LDI, dan klasifikasi. Proses dapat diotomasi menggunakan job scheduler sesuai frekuensi update. Untuk forecast, layer ini juga membentuk panel time series, lag, rolling feature, trend, persistence, cyclical month encoding, dan missing-data flags sebelum pemodelan.
Analytics layer menjalankan zonal statistics, CDPI, ranking, trend, persistence, agreement, dan confidence. Hasil disimpan dalam tabel spasial desa sehingga dashboard tidak harus menghitung ulang raster setiap kali pengguna membuka halaman. Forecast analytics menyimpan model per horizon, metrik hindcast, forecast LDI, forecast class, dan ranking sehingga dashboard dapat berpindah antarbulan tanpa menjalankan ulang training.
WebGIS menyediakan:
Dashboard eksekutif menampilkan KPI yang ringkas, antara lain persentase desa per kelas, jumlah wilayah severe/critical, Top-N prioritas, perubahan dari periode sebelumnya, distribusi per provinsi, dan ringkasan confidence.
Laporan operasional dapat diekspor ke Excel dan PDF. Kolom minimum yang disarankan ditunjukkan pada Tabel 5.
Tabel 5. Struktur atribut minimum laporan operasional
| Kelompok | Atribut |
|---|---|
| Identitas | kode desa, desa, kecamatan, kabupaten, provinsi |
| Indikator | SPI-1, SPI-3, NDVI anomaly, soil moisture anomaly |
| Hazard | LDI, kelas, dominant severity, mean severity |
| Dampak spasial | drought coverage, severe coverage, drought area |
| Temporal | trend, persistence |
| Confidence | agreement, valid area, confidence level |
| Prioritas | CDPI, national rank, provincial rank, warning level |
Forecast engine menjalankan lima tahap utama: audit input historis, feature engineering, temporal hindcast dan model selection, refit model final, serta inference H+1 sampai H+5. Model disimpan sebagai artefak serialisasi per horizon bersama daftar fitur dan metrik validasi. Output desa diekspor sebagai CSV dan Parquet, kemudian dapat dikonversi ke GeoJSON dan raster berbasis polygon desa untuk kebutuhan WebGIS.
Dashboard prediksi menyediakan pemilihan bulan forecast, ringkasan jumlah desa per kelas, mean/max Forecast LDI, Top-N ranking, dan peta interaktif. Arsitektur dibuat agar update berikutnya dapat menggunakan mekanisme resume/reuse: aset historis, weight cache, dan model yang masih valid tidak dihitung ulang tanpa kebutuhan. Pada saat data observasi bulan baru tersedia, pipeline dapat diperbarui dan model direfit sesuai kebijakan validasi yang ditetapkan.
Sumber batas administrasi memuat 83.486 record polygon. Quality control menemukan 86 record tanpa ID desa resmi yang dapat digunakan secara konsisten sebagai kunci time series. Record tersebut tidak diberi ID sintetis dan dikeluarkan dari panel prediksi, sehingga subsistem forecast menggunakan 83.400 desa. Pemisahan ini penting untuk menjaga integritas join antarbulan dan mencegah tercampurnya unit administratif.
Distribusi hasil klasifikasi monitoring awal yang tersedia pada dokumen sumber ditunjukkan pada Tabel 6. Nilai pada tabel ini merupakan snapshot monitoring dan tidak boleh dibaca sebagai distribusi forecast Agustus-Desember 2026.
Tabel 6. Distribusi desa berdasarkan kategori kekeringan
| Kategori | Persentase |
|---|---|
| Normal | 76,14% |
| Waspada | 14,14% |
| Kering Ringan | 6,16% |
| Kering Sedang | 2,18% |
| Kering Berat | 1,29% |
| Ekstrem | 0,10% |
Catatan: total persentase dapat berbeda sangat kecil dari 100% akibat pembulatan.
Sebagian besar desa berada pada kategori Normal, yaitu 76,14%. Meskipun demikian, sekitar seperempat unit analisis berada pada kategori Waspada hingga Ekstrem. Dari perspektif pengambilan keputusan, kondisi ini menunjukkan bahwa statistik nasional saja tidak cukup: kategori dengan persentase kecil seperti Kering Berat dan Ekstrem tetap memerlukan perhatian karena dapat terkonsentrasi pada lokasi tertentu dan memiliki coverage tinggi di tingkat desa.
Penggunaan tiga indikator memberikan interpretasi yang lebih kaya. SPI mengindikasikan tekanan meteorologis, soil moisture menggambarkan kondisi medium penyimpanan air, sedangkan NDVI menunjukkan respons vegetasi. Kombinasi ini memungkinkan sistem membedakan kondisi seperti: defisit hujan baru yang belum memengaruhi vegetasi, tanah kering tetapi vegetasi relatif stabil, atau vegetation stress yang tidak sepenuhnya dijelaskan oleh curah hujan.
Multi-indicator agreement juga mengurangi risiko interpretasi tunggal. Sebuah desa dengan LDI tinggi dan agreement 3/3 memiliki dukungan bukti yang lebih kuat dibanding desa dengan nilai serupa tetapi hanya satu indikator yang ekstrem. Meskipun demikian, disagreement bukan selalu kesalahan data; kondisi tersebut dapat merepresentasikan fase transisi atau lag response antarvariabel.
Penggunaan desa sebagai unit agregasi memberikan keuntungan administratif, tetapi membutuhkan kehati-hatian. Desa kecil dapat berada di dalam satu atau beberapa footprint grid soil moisture yang sama. Oleh karena itu, sistem tidak mengklaim bahwa ERA5-Land memiliki resolusi desa. Sebaliknya, sistem mengagregasikan bukti lingkungan yang tersedia ke unit keputusan administratif. Penyajian valid area dan confidence merupakan mekanisme untuk menjaga transparansi terhadap keterbatasan tersebut.
Mean Severity dan Dominant Severity digunakan secara bersamaan karena keduanya menjawab pertanyaan berbeda. Dominant Severity memberikan ringkasan yang mudah dipahami, sedangkan Mean Severity mempertahankan informasi heterogenitas kelas berdasarkan proporsi area. Drought Coverage dan Severe Coverage selanjutnya menunjukkan seberapa luas kondisi tersebut terjadi di dalam desa.
CDPI mengubah hasil hazard menjadi urutan prioritas operasional. Dua desa dapat memiliki severity yang sama, tetapi desa dengan coverage lebih tinggi memperoleh prioritas lebih besar. Sebaliknya, penggunaan luas absolut tanpa transformasi dapat menyebabkan desa yang besar selalu mendominasi. Transformasi logaritmik mengurangi efek ukuran wilayah sekaligus tetap mempertahankan informasi kebutuhan intervensi yang berhubungan dengan luas area terdampak.
Pemilihan bobot 0,50 untuk severity, 0,30 untuk coverage, dan 0,20 untuk area merupakan desain awal yang berorientasi pada urgensi kondisi. Karena bobot dapat memengaruhi ranking, sensitivity analysis merupakan syarat penting sebelum CDPI digunakan untuk alokasi sumber daya secara nyata.
Peta satu periode hanya menunjukkan keadaan saat observasi. Penambahan trend dan persistence mengubah sistem menjadi lebih mendekati early warning. Desa yang berada pada kategori Kering Ringan tetapi memburuk selama dua periode dapat lebih perlu dipantau daripada desa Kering Sedang yang sedang membaik. Persistensi juga membantu membedakan anomali jangka pendek dari kejadian yang berlangsung lama.
SPI-1 berfungsi sebagai leading signal karena dapat berubah sebelum vegetation stress terlihat. SPI-3 memberikan konteks akumulatif. Soil moisture dan NDVI kemudian berperan sebagai konfirmasi perkembangan dampak. Struktur ini mendukung konsep detection → confirmation → prioritization.
Nilai utama WebGIS bukan hanya visualisasi peta, tetapi kemampuan pengguna menelusuri dari skala wilayah besar menuju desa dan membaca indikator pembentuk keputusan. Dashboard eksekutif menyediakan ringkasan nasional/provinsi, sedangkan operational report memberi daftar yang dapat digunakan oleh tim lapangan. Dengan demikian, satu sumber analisis mendukung kebutuhan pengguna yang berbeda tanpa mengubah metode inti.
Hasil klasifikasi dan distribusi desa menunjukkan bahwa pipeline telah menghasilkan keluaran operasional, tetapi akurasi tidak dapat disimpulkan hanya dari pola visual atau distribusi kelas. Sebelum penggunaan sebagai dasar keputusan kritis, diperlukan validasi independen terhadap kejadian historis dan laporan lapangan. Validasi tersebut juga diperlukan untuk mengkalibrasi threshold LDI, aturan early warning, dan bobot CDPI.
Implementasi forecast menghasilkan lima set keluaran desa untuk Agustus, September, Oktober, November, dan Desember 2026. Setiap bulan memuat Forecast LDI, kelas kekeringan, model horizon terpilih, metrik hindcast, serta atribut kualitas input. Keluaran gabungan memungkinkan analisis trajectory per desa dari kondisi aktual Juli 2026 menuju lima bulan forecast.
Dokumen ini tidak menambahkan angka forecast atau nilai akurasi yang tidak tersedia di file sumber yang dilampirkan. Nilai numerik final harus diambil langsung dari FORECAST_VILLAGE_AUG_DEC_2026.csv dan FORECAST_MODEL_ACCURACY.csv hasil pipeline agar pembahasan tetap reproducible dan tidak menggunakan nilai ilustratif sebagai hasil penelitian.
Secara interpretatif, perubahan kelas antarhorizon harus dibaca bersama error hindcast per horizon. Forecast H+5 dengan severity tinggi tetapi error hindcast besar memerlukan verifikasi lebih kuat dibanding H+1 dengan performa historis yang stabil. Prinsip ini mencegah dashboard prediksi diperlakukan sebagai kepastian absolut.
Penelitian memiliki beberapa keterbatasan yang perlu dinyatakan secara eksplisit.
Pertama, input memiliki resolusi spasial berbeda. Resampling tidak menciptakan informasi baru sehingga tingkat desa harus dipahami sebagai unit agregasi. Kedua, NDVI tidak hanya dipengaruhi kekeringan, tetapi juga perubahan penggunaan lahan, panen, kebakaran, hama, dan aktivitas manusia. Ketiga, soil moisture reanalysis merupakan hasil model dan tidak identik dengan pengukuran lapangan. Keempat, SPI berbasis curah hujan tidak memasukkan pengaruh temperatur dan atmospheric evaporative demand. Kelima, CDPI belum memasukkan exposure dan vulnerability sosial-ekonomi sehingga tidak boleh diposisikan sebagai drought risk index yang lengkap. Keenam, threshold dan bobot masih memerlukan kalibrasi empiris sesuai karakter agroklimatologi wilayah. Ketujuh, forecast saat ini merupakan statistical direct multi-horizon forecast berbasis indikator historis dan belum menggunakan seasonal climate forecast dinamis sebagai predictor masa depan. Kedelapan, uncertainty belum berupa prediction interval probabilistik; metrik hindcast digunakan sebagai indikator performa per horizon. Kesembilan, temporal validation utama menggunakan target tahun 2025 sehingga robustness lintas banyak kejadian ekstrem masih perlu diuji dengan rolling-origin hindcast. Kesepuluh, forecast CDPI belum boleh diinterpretasikan apabila historical target coverage/affected area belum cukup untuk pelatihan.
Pengembangan selanjutnya diarahkan pada enam area. Pertama, mengintegrasikan seasonal climate forecast, misalnya prediksi presipitasi dan variabel atmosfer, sebagai exogenous predictors agar horizon menengah tidak hanya bergantung pada persistence historis. Kedua, menambahkan evapotranspirasi atau SPEI untuk menangkap atmospheric evaporative demand. Ketiga, melakukan rolling-origin hindcast multi-tahun dan full-population validation untuk memperoleh estimasi performa yang lebih robust. Keempat, mengembangkan probabilistic forecasting atau calibrated prediction interval agar uncertainty dapat dinyatakan secara kuantitatif. Kelima, membangun forecast CDPI hanya setelah tersedia time series historical severity, coverage, affected area, dan data intervensi yang cukup. Keenam, menambahkan exposure, vulnerability, luas sawah, pola tanam, jenis komoditas, akses irigasi, sumber air, dan feedback lapangan untuk mengembangkan drought risk forecasting yang lebih komprehensif.
Jika exposure dan vulnerability tersedia, kerangka konseptual risiko dapat diperluas menjadi:
Pengembangan tersebut harus dilakukan sebagai model lanjutan agar CDPI saat ini tetap memiliki definisi yang jelas sebagai prioritas berdasarkan kondisi fisik kekeringan.
LBS Drought Early Warning System dikembangkan sebagai kerangka terintegrasi untuk mengubah data klimatologi, penginderaan jauh, dan reanalisis menjadi informasi monitoring sekaligus prediksi kekeringan pada tingkat administrasi desa. Sistem menggunakan CHIRPS, MODIS, dan ERA5-Land untuk membentuk SPI, NDVI anomaly, soil moisture anomaly, LDI, serta atribut pendukung seperti trend, persistence, agreement, dan confidence. Pengembangan prediksi menambahkan direct multi-horizon machine learning yang memproyeksikan Forecast LDI dan kelas kekeringan H+1 sampai H+5.
Hasil LDI diterjemahkan ke desa melalui area-weighted zonal statistics sehingga menghasilkan severity, drought coverage, severe drought coverage, dan drought area. CDPI kemudian mengkombinasikan severity, coverage, dan luas terdampak menjadi indeks prioritas intervensi. Penambahan trend, persistence, agreement, dan confidence memperluas fungsi sistem dari pemetaan keadaan menuju early warning dan decision support. Pada subsistem forecast, historical indicator, lag, rolling mean, trend, persistence, seasonality, koordinat, dan missingness digunakan sebagai predictor. Model dipilih melalui temporal hindcast 2025 dan direfit menggunakan observasi sampai Juli 2026 untuk menghasilkan forecast Agustus-Desember 2026.
Sumber administrasi mencakup 83.486 polygon, sedangkan panel forecast menggunakan 83.400 desa ber-ID valid. Distribusi monitoring awal yang tercantum pada dokumen sumber tetap dipertahankan sebagai informasi snapshot dan tidak dianggap sebagai hasil forecast. Keluaran prediksi dihasilkan dalam bentuk tabel desa, raster, GeoJSON, dan WebGIS sehingga pengguna dapat membandingkan trajectory antarbulan dan memprioritaskan verifikasi lapangan berdasarkan severity yang diperkirakan serta performa hindcast model horizon terkait.
Sebelum digunakan sebagai dasar alokasi sumber daya secara penuh, model perlu divalidasi menggunakan kejadian historis dan observasi independen. Validasi tersebut menjadi dasar kalibrasi threshold, bobot LDI, bobot CDPI, dan aturan level peringatan. Untuk forecast, validasi harus dilanjutkan melalui rolling-origin hindcast, event-based evaluation, dan observasi independen. Forecast CDPI hanya boleh digunakan setelah target historical coverage/affected area memadai; prinsip no fabricated target dipertahankan sebagai safeguard metodologis.
Didan, K. (2015). MOD13 User Guide: MODIS Vegetation Index Product Series, Collection 6. NASA EOSDIS Land Processes DAAC.
Funk, C., Peterson, P., Landsfeld, M., Pedreros, D., Verdin, J., Shukla, S., Husak, G., Rowland, J., Harrison, L., Hoell, A., & Michaelsen, J. (2015). The climate hazards infrared precipitation with stations—A new environmental record for monitoring extremes. Scientific Data, 2, 150066. https://doi.org/10.1038/sdata.2015.66
Hao, Z., & AghaKouchak, A. (2013). Multivariate standardized drought index: A parametric multi-index model. Advances in Water Resources, 57, 12–18.
Hersbach, H., Bell, B., Berrisford, P., et al. (2020). The ERA5 global reanalysis. Quarterly Journal of the Royal Meteorological Society, 146(730), 1999–2049.
Kogan, F. N. (1995). Application of vegetation index and brightness temperature for drought detection. Advances in Space Research, 15(11), 91–100.
McKee, T. B., Doesken, N. J., & Kleist, J. (1993). The relationship of drought frequency and duration to time scales. In Proceedings of the 8th Conference on Applied Climatology (pp. 179–184). American Meteorological Society.
Mishra, A. K., & Singh, V. P. (2010). A review of drought concepts. Journal of Hydrology, 391(1–2), 202–216.
Muñoz-Sabater, J., Dutra, E., Agustí-Panareda, A., et al. (2021). ERA5-Land: A state-of-the-art global reanalysis dataset for land applications. Earth System Science Data, 13, 4349–4383.
Rouse, J. W., Haas, R. H., Schell, J. A., & Deering, D. W. (1974). Monitoring vegetation systems in the Great Plains with ERTS. In Third Earth Resources Technology Satellite-1 Symposium (pp. 309–317). NASA.
Svoboda, M., LeComte, D., Hayes, M., et al. (2002). The Drought Monitor. Bulletin of the American Meteorological Society, 83(8), 1181–1190.
Van Loon, A. F. (2015). Hydrological drought explained. WIREs Water, 2(4), 359–392.
Vicente-Serrano, S. M., Beguería, S., & López-Moreno, J. I. (2010). A multiscalar drought index sensitive to global warming: The Standardized Precipitation Evapotranspiration Index. Journal of Climate, 23(7), 1696–1718.
Wilhite, D. A., & Glantz, M. H. (1985). Understanding the drought phenomenon: The role of definitions. Water International, 10(3), 111–120.
World Meteorological Organization. (2012). Standardized Precipitation Index User Guide (WMO-No. 1090). Geneva: WMO.
Breiman, L. (2001). Random forests. Machine Learning, 45, 5-32. https://doi.org/10.1023/A:1010933404324
Chen, T., & Guestrin, C. (2016). XGBoost: A scalable tree boosting system. In Proceedings of the 22nd ACM SIGKDD International Conference on Knowledge Discovery and Data Mining (pp. 785-794). https://doi.org/10.1145/2939672.2939785
Friedman, J. H. (2001). Greedy function approximation: A gradient boosting machine. The Annals of Statistics, 29(5), 1189-1232.
Roberts, D. R., Bahn, V., Ciuti, S., Boyce, M. S., Elith, J., Guillera-Arroita, G., et al. (2017). Cross-validation strategies for data with temporal, spatial, hierarchical, or phylogenetic structure. Ecography, 40(8), 913-929. https://doi.org/10.1111/ecog.02881